Kutai Kartanegara, The Magical Borneo: Aktor Pentahelix Kukar Sepakati City Branding dan Strategi untuk Kuatkan Ekonomi Kreatif

Blog Single

Kutai Kartanegara, (12/09) – Kabupaten Kutai Kartanegara telah ditetapkan sebagai Kabupaten Kreatif di Luar Pulau Jawa, yang berpotensi menjadikan ekonomi kreatif sebagai pendorong utama peningkatan ekonomi kabupaten, bersama dengan 9 kabupaten/kota lainnya yakni Kota Malang, Kabupaten Majalengka, Kota Palembang, Kota Semarang, Kota Balikpapan, Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, dan Kabupaten Rembang, dalam Keputusan Kepala Bekraf 84/2019 tanggal 19 Juni 2019 jo 83/2019 tanggal 18 juni 2019 tentang Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia Tahun 2019.

Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut, Bekraf bersama para aktor pentahelix seni pertunjukan Kutai Kartanegara pada 10-12 September 2019 menyusun Strategi Pengembangan dan Penguatan Seni Pertunjukan Kabupaten Kutai Kartanegara. Selama tiga hari, tidak kurang dari 40 peserta yang mewakili berbagai sanggar seni pertunjukan dari 18 kecamatan di Kutai Kartanegara bersama-sama menyusun konsep city branding, rencana strategis dan peta jalan pengembangan ekonomi kreatif bersama narasumber antara lain Irvan Permana (branding consultant), Dimas Sandya (trainer dan fasilitator), Dwi Nugroho & Peni Candra Rini (Praktisi Seni Pertunjukan), serta M. Yanuarto Bramuda (Kadisbupdar Kab. Banyuwangi). Jalannya workshop juga dipandu oleh Ramalis Sobandi, Kusumaningdyah Nurul Handayani, dan Tyas Nastiti dari Tim KaTa Kreatif dan Tim PMK3I Bekraf.


Kutai Kartanegara, The Magical Borneo merupakan tagline city branding yang diusung dan dianggap dapat mengangkat seluruh aspek keunggulan. Para peserta yang merupakan perwakilan pelaku ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara baik dari subsektor seni pertunjukan, musik, film, animasi, video, hingga keragaman seni budaya dan seluruh potensi alam dan wisatanya ikut serta menentukan lahirnya tagline tersebut. Seni pertunjukan dinilai dapat mengangkat nama Kutai Kartanegara melalui berbagai pergelaran festival seperti Erau International Folklore and Art Festival, Festival Kota Raja, Kutai Folklore Festival, dll.

Nala Arung, selaku perwakilan aktor ekonomi kreatif Kabupaten Kutai Kartanegara, menyatakan fokus penguatan subsektor seni pertunjukan untuk jangka pendek adalah exposure kepada masyarakat terkait The Magical Borneo, jangka menengah adalah showcase seni pertunjukan di pembukaan jalan tol pada akhir tahun 2019, sedangkan jangka panjang adalah menciptakan Creative Hub dan melaksanakan The Magical Borneo Fest.


Bupati Kutai Kartanegara, Edi Drs. Edi Damansyah, M.Si. yang hadir pada hari ketiga workshop turut menanggapi dan mendukung action plan yang disampaikan oleh para pelaku yang diwakili oleh Nala Arung. Selain itu, Bupati Kutai Kartanegara juga menyampaikan bahwa Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara juga perlu untuk membuat rencana strategis terkait pengembangan ekonomi kreatif, khususnya subsektor seni pertunjukan dan akan dimasukan pada visi dan misi daerah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Lebih lanjut, Selliane Halia Ishak selaku Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Bekraf menyatakan Kabupaten Kutai Kartanegara perlu untuk membentuk ekosistem kreatif dan menajamkan pemetaan terkait “siapa yang akan melakukan apa” untuk pengembangan subsektor ekonomi kreatif. Selain itu, pada tahun 2020, Program KaTa Kreatif akan dijadikan program prioritas nasional oleh Bappenas dan selanjutnya Bekraf akan melakukan evaluasi Kabupaten/Kota yang telah mendapat status KaTa Kreatif selama dua tahun, dan harapannya pada 2024 Kabupaten/Kota dapat menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor penggerak utama perekonomian Kabupaten/Kota. 

Share this Post: