Sasaringan Bordir dan Rumah Ulin Di Kota Banjarbaru

Blog Single

Pada awal bulan Maret 2019, melalui program Penilaian Mandiri Kota Kabupaten Kreatif Indonesia (PMK3I) – BEKRAF dan pemerintah Kota Banjarbaru bersama stakeholders terkait menentukan subsektor ekonomi kreatif unggulanya di subsektor Kriya. Salah satu produk unggulannya adalah Sasirangan Bordir.

Nilai kreatifitas lebih terasa lagi ketika mengunjungi galeri NDF Sasirangan. Berupa galeri yang menjual sasirangan bordir dengan memanfaatkan bangunan rumah kayu Ulin, yaitu bangunan rumah yang terbuat dari kayu ulin.

Sejak tahun 2014, Ibu Hj. Imay (39 Tahun) kerap mengikuti pelatihan teknis kewirausahaan yang dilakukan oleh PLUT (Pusat Layanan Unit Terpadu) Dinas Koperasi dan UKM Kota Banjarbaru. Berawal sebagai anggota kelompok di kewirausahaan Sasirangan Bordir Cempaka, dengan keuletannya di tahun 2017 Hj. Imay membuka unit usaha Sasirangan Bordir secara mandiri dengan nama “NDF Sasirangan”. Nama unit usaha NDF Sasirangan diambil dari awalan nama (Nisa Dina dan Fitrah), putra-putri Ibu Hj. Imay. Salah satu patron khas NDF Sasirangan adalah motif “Andayangnyiur” berbentuk tumbuhan nyiur/ kelapa. Walaupun belum terpatenkan, motif ini menjadi motif andalan NDF Sasirangan dalam memenuhi permintaan pasar.

Ide membuka galeri Sasaringan Bordir di rumah kayu “Ulin” merupakan ide yang spontan dikarenakan pemilik galeri telah menempati rumah kayu ulin selama 3 generasi lamanya. Hj. Imay merupakan generasi ke dua. Pemilik rumah kayu ulin, keluarga H. Abubakar telah memiliki rumah kayu ulin ini sejak tahun 1970an.

Pada permukiman rumah di Kalimantan berbahan utama kayu “ulin”. Begitupula permukiman Kelurahan Cempaka, Banjarbaru banyak dijumpai deretan rumah kayu ulin. Dalam bahasa latin, kayu ulin bernama Eusideroxyon zwaferi T.etB.) merupakan jenis tanaman Dipterocarpaceae yang tumbuh alami di Pulau Kalimantan. Ulin termasuk pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m dengan diameter sampai 120 cm. Pohon ini tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m. Kayu ulin memerlukan puluhan tahun untuk memanennya. Saat ini populasinya di alam sangat terbatas bahkan terancam kepunahan.

Kayu ulin juga dikenal dengan nama kayu besi karena sifatnya yang kuat dan awet. Kayu ini juga tahan akan serangan rayap, perubahan kelembaban dan suhu serta tahan pula terhadap air. Oleh karenanya kayu ulin banyak digunakan untuk berbagai keperluan seperti jembatan, tiang listrik, perkapalan dan material bahan bangungan (pondasi bangunan di dalam air dan lahan basah, atap, kusen dan pintu).

Pengunjung dibawa untuk tidak hanya melihat produk sasaringan bordir beserta proses pembuatannya, namun sekaligus diajak merasakan meruang di rumah kayu “ulin” Kalimantan. Ruang tamu dijadikan galeri memajang produk sasirangan bordir.

Pengunjung dibawa menyusuri lorong kamar yang tembus ke ruang belakang (dapur dan kamar mandi). Lorong kamar digunakan juga sebagai ruang pajang. Ruang belakang (bagian dapur) merupakan pusat area produksi sasirangan bordir, berupa area membordir, menumpuk bahan kain yang telah di jelujur dengan benang tebal, dan proses pewarnaan. Keseluruhan ruang berupa elemen dinding, eternit dan lantai terbuat dari kayu ulin. Kehangatan warna kayu dan penghawaan alami yang berasal dari rongga lantai kayu berkontruksi panggung membawa sensasi meruang tersendiri.

Ide mempertahankan keaslian rumah kayu ulin ini berasal dari Hj. Imay dan putrinya Nisa (22 Tahun) yang sejak awal dilibatkan untuk membantu usaha. Keduanya berkeinginan mempertahankan rumah warisan kakek dalam bentuk orisinil sebagai galeri. Dalam pengembangannya kedepan, Hj. Imaiy berkeinginan menambah interior display yang dibuat berkesesuaian dengan ukuran dan warna kayu. Mereka tidak berkeinginan mengikuti bentukan ‘style’ galeri toko pada umumnya. Sembari melestarikan produk intangible heritage berupa sasirangan bordir, Hj. Imay juga sekaligus telah melakukan konservasi terhadap rumah kayu ulin sebagai produk tangible heritage. Semoga semakin banyak pengusaha sasirangan bordir di Kota Banjarbaru yang memiliki ide kreatif seperti ini. (Kusumaningdyah N.H/Rully)



Share this Post: